Minggu, 21 Desember 2014

PERAN AGAMA TURKI DAN PAKISTAN

KELOMPOK 9: JUMRIANI
                           ST. NURHAEDA

PERAN AGAMA DALAM PERPOLITIKAN TURKI DAN PAKISTAN
Pakistan dan Turki berada di persimpangan evolusi politik mereka, partai keadilan dan pembangunan (AKP) di Turki dan Partai Rakyat Pakistan (PPP) yang terpilih secara demokratis di Pakistan menguasai baik kepresidenan maupun parlemen di Negara mereka, yang nyata-nyata membuat mereka menjadi salah satu pemerintah terpilih paling kuat dalam sejarah mereka masing-masing. Baik PPP maupun AKP telah berjanji untuk mewujudkan pembaruan politik dan ekonomi yang begitu dibutuhkan, tetapi ketulusan dan kemampuan mereka untuk melaksanakan prakarsa tersebut sangat dipertanyakan.(oleh Ozlem Gemici dan Rehan Rafay jamil, 14 Nopember 2008).
Jalur perpolitikan kedua Negara tersebut memberi penjelasan terhadap dinamika politik yang sedang berubah di Negara-negara muslim, Turki sering disebut sebagai penduduk yang berburu dipegunungan Altai di Mongolia Barat pada saat ketika padang rumput dihuni oleh orang Scythia, Hun, dan penduduk nomaden pastoral lainnya. Di sisi lain dari spektrum sekularisme adalah Pakistan, adalah sebuah Negara yang prisip-prinsip pendirinya di dasarkan pada ideologi demokrasi muslim, sejak kemerdekaan, perpolitikan kedua Negara sebagian besar dikuasai oleh militer, dengan ketidak seimbangan kekuasaan politik dan ekonomi yang telah menjadi sebuah rintangan besar bagi demokratisasi.(oleh Dilip Hiro. pertarungan marxisme- Islam,2005, hal 65).
Mustafa Kemal Atatürk mendirikan Republik Turki pada 1923, yang mengakhiri lebih dari 600 tahun kekuasaan Ottoman. Walaupun republik baru tersebut dengan cepat mengambil banyak aspek kebudayaan dari Negara barat, namun menciptakan sebuah sistem politik yang demokratis terbukti jauh lebih sulit. Bahkan setelah peralihan Turki ke sistem multi-partai pada tahun 1946, militer tetap dominan dalam politik sebagai penjaga demokrasi dan sekularisme. Militer menggunakan istilah pengawalan yang mereka akui sendiri sebagai justifikasi untuk mengabsahkan campur tangannya, dan karena itu Turki mengalami kudeta-kudeta militer pada tahun 1960, 1971, dan 1980, diikuti oleh sebuah kudeta bayangan pada tahun 1997 dan berbagai upaya kudeta lain yang gagal. Setiap campur tangan militer mendominasi wilayah politik membekas hingga jauh setelah masa kekuasaan mereka yang satu sampai tiga tahun selesai. (ibid)
Pakistan, di sisi lain, diciptakan pada tahun 1947 sebagai sebuah tanah air merdeka bagi Muslim di anak benua India. Walaupun pendirinya, Muhammad Ali Jinnah, telah mencita-citakan Pakistan sebagai sebuah demokrasi Muslim modern daripada sebuah negara teokratis, peran agama dalam urusan-urusan kenegaraan dirumuskan dengan buruk pada saat kemerdekaan. Malah, sekedar isu tentang seberapa “Islami” Pakistan seharusnya masih terus diperdebatkan oleh dunia politik negara. Seperti halnya di Turki, militer Pakistan mendominasi urusan-urusan negara tidak lama setelah kemerdekaan. Negara itu telah menyaksikan empat kudeta militer dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam 60 tahun kemerdekaaannya di bawah kekuasaan militer Pada tahun-tahun awal berdirinya negara Kemalis Turki menunjukkan sebagian langkah paling radikal untuk menyapu bersih Islam dari kehidupan masyarakat, seperti larangan bagi perempuan mengenakan jilbab dan penutupan madrasah-madrasah (sekolah agama Islam). ibid
Walaupun beberapa larangan praktik keagamaan akhirnya melunak, peran Islam dalam kehidupan masyarakat masih merupakan sebuah perdebatan yang sangat terkutub di Turki. Pada bulan Juli 2007, AKP terpilih berkuasa untuk kedua kalinya. Keberhasilan AKP, sebuah partai moderat, pro-Barat, berpolitik Islam, untuk terpilih kembali telah terbukti sebagai tes lakmus dari demokrasi Turki. Walaupun AKP berjanji untuk menegakkan tradisi-tradisi sekuler Turki, akar-akar keagamaan membuatnya menjadi racun bagi kekuasaan militer. (oleh Rehan Rafay jamil, 14 Nopember 2008).
Pada bulan Maret 2008, Mahkamah Konstitusi Turki mencoba melarang AKP berpolitik. Walaupun Mahkamah akhirnya memberikan suara menentang pelarangan partai tersebut, kasus tersebut disambut hangat oleh kekuasaan militer. Namun, hal tersebut menyebabkan pergolakan dalam masyarakat sipil Turki.
Pada bulan April 2008, menyusul pencalonan Abdullah Gül sebagai Presiden oleh AKP, militer membuat sebuah pernyataan yang menegaskan,penolakan mereka terhadap peningkatan sentimen-sentimen keagamaan di negara tersebut dan mengingatkan bahwa mereka tidak akan ragu untuk mempertahankan prinsip-prinsip kesekuleran Turki. Ini diartikan oleh banyak pengulas sebagai sebuah kedok tipis dari sebuah ancaman kudeta keempat militer dan sebuah peringatan keras tentang ketidak percayaan militer kepada sebuah partai politik yang telah memenangkan lebih dari 46 persen suara rakyat.
Sementara Turki berjuang untuk menciptakan sebuah tatanan sekuler baru dengan menekan kecenderungan keagamaan, Pakistan mencoba untuk menempa sebuah rasa kebangsaan berdasarkan cita-cita kebangsaan muslim. Karena itu, keberadaan islam dalam politik Pakistan adalah suatu hal yang alamiah, walupun dilawan, yang mengikat sejak pembentukanya. Selama masa kekuasaan militer di Pakistan pada 1980-an, kebijakan Jenderal Zia ul Haq tentang “islamisasi” yang disetir Negara, sebuah upaya untuk mengambil hati hak keagamaan rakyat Pakistan, bertujuan untuk merancang ulang lembaga-lembaga Pakistan kedalam sebuah lembaga islam. Tetapi usaha-usaha penguasa dikedua Negara tersebut untuk merumuskan peran islam dalam politik dan masyarakat bukanya tampa perlawanan. Dalam dua dasawarsa terakhir, telah tumbuh mobilisasi akar rumput politik islam di Turki terlepas dari berbagai batasan Negara. Di Pakistan, partai-partai islam menginginkan sebuah peran politik yang lebih besar telah gagal menciptakan dampak yang berarti di bilik suara, terlepas dari upaya demi upaya Negara untuk mengarahkan mereka. Namun,mmereka telah sangat diuntungkan oleh perlindungan Negara, khususnya pada masa-masakekuasaanmiliter. (sumber:www.commongroundnews.org)
Dengan sebuah gerak berstandar ganda, sekutu mengijinkan tentara Yunani  menduduki pelabuhan Turki Izmir pada 15 mei 1920. Ketika Yunani mulai bergerak ketimur dengan tujuan yang ditetapkan untuk merebut Anatolia Barat guna menciptakan sebuah (Negara) Yunani yang lebih besar, muslim Anatolia mengangkat senjata di bawah kepemimpian Mustafa kemal (1881-1938) untuk mengorbankan apa yang mereka sebut perang kemerdekaan
Turki
- Politik Kemalis ingin memutuskan hubungan Turki dengan sejarahnya yang lalu supaya Turki dapat masuk dalam peradaban barat. Oleh karena itulah penghapusan kekhalifahan merupakan agenda pertama yang dilaksanakan. Pada tanggal 1 November 1922 Dewan Agung Nasional pimpinan Mustafa Kemal menghapuskan kekhalifahan. Selanjutnya pada tanggal 13 Oktober 1923 memindahkan pusat pemerintahan dari Istanbul ke Ankara. Akhirnya Dewan Nasional Agung pada tanggal 29 Oktober 1923 memproklamasikan terbentuknya negara Republik Turki dan mengangkat Mustafa Kemal sebagai Presiden Republik Turki.

Setelah meniadikan kekhalifahan, politik Kemalisme menghapuskan lembaga-lembaga syariah, meskipun sebenarnya peranan lembaga ini sudah sangat dibatasi oleh para pembaru Kerajaan Ustmani. Bagi Kemalis, syariat adalah benteng terakhir yang masih tersisa dari sistem keagamaan tradisional. Lebih lanjut lagi Kemalis menutup sekolah-sekolah madrasah yang sudah ada sejak tahun 1300-an sebagai suatu lembaga pendidikan Islam. Reformasi agama adalah salah satu contoh tindakan ekstrim dari rezim Kemalis setelah penghapusan khalifah. Reformasi ini bertujuan untuk memisahkan agama dari kehidupan politik negara dan mengakhiri kekuatan tokoh-tokoh agama dalam masalah politik, sosial dan kebudayaan. Selain itu Mustafa Kemal juga mengajukan pemikiran tentang nasionalisme agama. Menurutnya agama merupakan suatu lembaga sosial dan karena itu harus disesuaikan dengan sosial dan budaya masyarakat Turki.

Suatu komite dibentuk di Fakultas Teologi di Universitas Istanbul untuk memodernisasikan Islam. Komite ini menyebarkan keinginan Mustafa kemal untuk mengganti bentuk dan suasana mesjid seperti bentuk dan suasana gereja di negara-negara barat, dengan menekankan pada: pentingnya masjid yang bersih, dengan bangku-bangku dan ruang tempat menyimpan mantel, mewajibkan jamaah masuk dengan sepatu yang bersih, menggantikan bahasa Arab dengan bahasa Turki, menyediakan alat-alat musik ditempat shalat untuk memperindah bentuk shalat, dan mengubah teks-teks khutbah yang telah ada dengan khutbah yang berisi pemikiran agama berdasarkan filsafat barat. Pada tahun 1932 pemerintah mengeluarkan kebijakan mengganti pengucapan adzan ke dalam bahasa Turki, yang amat ditentangolehmayoritasmasyarakatMuslimTurki.

Reformasi agama, yang bentuknya upaya Turkifikasi Islam atau nasionalisasi Islam ini merupakan bentuk campur tangan pemerintah Kemalis dalam kehidupan beragama di masyarakat Turki. Sekularisme yang sejatinya memisahkan hubungan agama dengan pemerintahan, dimana negara menjamin kebebasan beribadah, bagi warga negara, pada pelaksanaannya dijalankan dengan semangat nasionalisme yang radikal dan dipaksakan oleh Kemalis. Namun penerapan nasionalisasi agama ini hanya bertahan hingga akhir pemerintahan Kemalis (Partai Rakyat Republik). Sejak tahun 1950, adzan kembali diucapkan dalam bahasa Arab. Masjid-masjid di Turki pun hingga saat ini tetap menunjukkan bentuk-bentuk yang umum sebagaimana masjid di negara-negaralainnya.

Peradaban menurut Mustafa Kemal, berarti peradaban barat. Tema utama dari pandangannya tentang pem-Barat-an adalah bahwa Turki harus menjadi bangsa barat dalam segala tingkah laku. Untuk itu Pemerintah Kemalis mengeluarkan kebijakan larangan menggunakan pakaian-pakaian yang dianggap pakaian agama di tempat-tempat umum dan menganjurkan masyarakat Turki menggunakan pakaian sebagaimana orang-orang barat berpakaian (berjas dan bertopi). Peraturan ini mulai efektif pada November 1925 dan hingga saat ini masyarakat Turki menggunakan pakaian ala Barat. Sampai saat ini pemakaian jas sudah menjadi ciri umum dari masyarakat Turki. Sedangkan pemakaian topi menghilang bersamaan dengan menghilangnya kebiasaan memakai topi itu pada masyarakat Eropa.

Mustafa Kemal juga mengkritik pemakaian jilbab oleh wanita-wanita Turki, tapi semasa hidupnya tidak ada undang-undang yang secara tegas melarang pemakaian jilbab tersebut. Pelarangan jilbab secara konstitusional baru terjadi pada tahun 1998, sebagai reaksi militer atas munculnya fenomena kesadaran yang tinggi dari muslimah-muslimah Turki dalam menggunakan jilbab dan juga reaksi atas kemenangan Partai Islam Refah pada pemilu tahun1995.

Selain reformasi agama, reformasi yang paling penting dari rezim Kemalis adalah reformasi bahasa. Tulisan Arab diganti dengan tulisan Latin, berdasarkan undang-undang yang diputuskan oleh Dewan Nasional Agung pada 3 Novemeber 1928. Tujuan reformasi bahasa adalah membebaskan bahasa Turki dari ‘belenggu’ bahasa asing. Penekanannya adalah pemurnian bahasa Turki dari bahasa Arab dan Persi. Mustafa Kemal mengadakan kunjungan di banyak tempat untuk mengajar secara langsung tulisan baru pada rakyat Turki. Reformasi bahasa ini memberi sumbangan yang berharga bagi perkembangan linguistik bahasa Turki saat ini. Penelitian yang mendalam terhadap akar bahasa dan struktur bahasa Turki membuktikan bahwa bahasa Turki termasuk kelompok bahasa Altay, yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan bangsa-bangsa yang mendiami wilayah yang membentang dari Finlandia hingga Manchuria.
Dari segi gramatikal, bahasa Turki termasuk bahasa aglutinatif, yaitu bahasa berimbuhan. Struktur sintaksis memperlihatkan pola Objek-Predikat, dimana Predikat selalu berada di akhir kalimat. Ciri-ciri struktural bahasa Turki memperlihatkan perbedaannya yang jelas dengan bahasa Arab. Komite ahli hukum mengambil Undang-Undang sipil Swiss untuk memenuhi keperluan hukum di Turki menggantikan Undang-Undang Syariah, berdasarkan keputusan Dewan Nasional agung tanggal 17 februari 1926. Undang-Undang Sipil yang mulai diberlakukan pada tanggal 4 Oktober 1926 ini antara lain tentang: menerapkan monogami, melarang poligami dan memberikan persamaan hak antara pria dan wanita dalam memutuskan perkawinan dan perceraian. Sebagai konsekuensi dari persaman hak dan kewajiban ini hukum waris berdasarkan Islam dihapuskan. Selain itu undang-undang sipil juga memberi kebebasanbagiperkawinanantaragama.

Pada I Januari 1935, pemerintah mengharuskan pemakaian nama keluarga bagi setiap orang Turki dan melarang pemakaian gelar-gelar yang biasa dipakai pada masa Turki Ustmani. Mustafa Kemal menambahkan nama Ataturk, yang berarti Bapak Bangsa Turki, sebagai nama keluarga. Pada tahun 1935 sistem kalender hijriyah diganti dengan sistem kalender masehi, hari Minggu dijadikan sebagai hari libur menggantikan hari libur sebelumnya yaituhariJumat.

Pakistan
Pakistan mendapat kemerdekaan dari Inggris pada 14 Agustus 1947. Nama Islam-i Jumhuriya-e Pakistan (Republik Islam Pakistan) memiliki arti dan peran penting dalam perkembangan sejarah Islam modern. Tampak jelas dalam kata-kata Muhammad Ali Jinnaah –seorang tokoh revolusioner- pendiri negara ini yang mengatakan, "kita tidak memperjuangkan berdirinya Pakistan semata-mata untuk mendapatkan sebidang tanah, tetapi kita menginginkan suatu wilayah di mana kita bisa menerapkan prinsip dan ajaran Islam". Sejak perjuangan awal mendirikan negara Islam yang terpisah dari India, hingga terbentuk Namun, pengislaman sesungguhnya baru terjadi pada era Sultan Mahmud al Gaznawi (971-1030), yang berpusat di Kota Gazni, Afganistan. Dan semakin cemerlang pada era Dinasti Mogul berkuasa di India (1526-1858). Undang-undang Negara juga berdasarkan Syariat yang dilaksanakan oleh pemerintah. Kesan Islam pada sub-benua Asia-Selatan sangat dalam dan dalam jangkauan yang cukup luas. Islam diperkenalkan bukan merupakan suatu agama baru saja, tetapi suatu peradaban baru, suatu cara baru dalam kehidupan dan set nilai yang baru. dan kesusasteraan dari tradisi Islam, suatu kebudayaan dan pemurnian yang halus, institusi sosial dan kesejahteraan, didirikan dengan aturan Islam di seluruh sub-benua. Sebuah bahasa baru diperkenalkan, Urdu berasal terutama dari Bahasa Arab.
Sebelum pisah menjadi Pakistan, umat Islam India merupakan minoritas amat lemah, di tengah mayoritas Hindu dan kekuasan politik serta militer Inggris. Islam dan Hindu ibarat dua arus sungai yang mengalir dan bersumber dari muara yang berbeda. Walaupun pemeluknya telah hidup berdampingan bersama selama berabad-abad, namun pandangan mereka tentang hidup dan kehidupan merupakan batas pemisah yang tidak bisa dijembatani. Maka muncullah gagasan membentuk negara sendiri bagi umat Islam. Gagasan yang diprakarsai Sir Sayid Ahmad Khan (l817-1898), kemudian berkembang luas menjadi cita-cita perjuangan, segera dirumuskan oleh Sir Muhammad Iqbal (1873-1938) melalui organisasi "Liga Muslim India". Akhirnya direalisasikan oleh Muhammad Ali Jinnah, yang dibaiat menjadi Qaid-i Azam (Pemimpin Besar) sekaligus Presiden pertama Republik Islam Pakistan. Dalam salah satu pidatonya ia (Ali Jinnah) mengatakan, "dari sudut pandang apapun ummat Islam adalah satu bangsa, mereka berhak mendirikan Negara sendiri dan menerapkan cara apapun untuk melindungi dan meningkatkan kepentingan mereka dari dominasi India."Aral tak henti menghadang pertumbuhan negara yang tengah berjuang menerapkan syari'ah (hukum Islam), yang mengakomodasi demokrasi, HAM, toleransi, dan keadilan sosial tersebut. Mayoritas negara-negara anggota PBB rata-rata "gerah" menyaksikan kemajuan Pakistan di bidang penerapan syari'ah dan pengembangan sains modern. Puncak kekhawatiran itu, berubah menjadi ketakutan dan berujung kepada konspirasi untuk memecah belah. Tahun 1971 timbul perang saudara antara Pakistan Barat yang dipimpin Presiden Yahya Khan dan Pakistan Timur yang dipimpin Mujibur Rahman.
Dengan bantuan penuh India, serta kelompok konspirasi lainnya, Pakistan Timur berhasil melepaskan diri dari Republik Islam Pakistan. Berdirilah Republik Bangladesh. Republik Islam Pakistan kehilangan satu sayap terpenting, berupa penyusutan wilayah geografis. Setelah tragedi pisahnya Pakistan Barat-Pakistan Timur, Republik Islam Pakistan senantiasa dililit masalah. Selain ketegangan abadi dengan India, baik mengenai perbatasan maupun "kepemilikan" Khasmir, juga ketengangan internal yang selalu meruntuhkan kewibawaan pemerintahan.
Tahun 1974, Jenderal Yahya Khan dikudeta oleh Jenderal Zulfikar Ali Butho. Juli 1977, Jenderal Ziaul Haq mengambil alih kekuasaan. Ali Butho dihukum gantung (4 April 1979). Pemerintah Ziaul Haq memberi dukungan penuh kepada Mujahidin Afganistan, yang sedang berjuang melawan invasi militer Uni Soviet (1979-1989). Namun tahun 1988, Ziaul Haq tewas, ketika helikopter yang ditumpanginya bersama Dubes Amerika Serikat di Pakistan, meledak. Kekuasan berpindah. Hingga muncul Benazir Butho, putri mendiang Zulfikar Ali Butho, merebut takhta Perdana Menteri. Hanya bertahan dua tahun. Tahun 1990, Benazir lengser karena dituduh korupsi. Digantikan Nawaz Sharif, seorang pengikut panatik Ziaul Haq. Sejak itu, pemerintahan Pakistan tak pernah stabil. Serangan AS ke Afganistan awal 2002, membawa pengaruh luar biasa terhadap Pakistan. Peran Pakistan membesarkan Milisi Thaliban, hingga mampu mendirikan pemerintahan Islam di Afganistan tahun 1996, berubah drastis setelah mendapat tekanan keras AS. Pakistan balik membantu AS menghancurkan Milisi Thaliban. Presiden Pervez Musharraf berperan besar dalam perubahan sikap itu. Seorang Presiden yang berhasil naik tahta dengan aksi kudeta militer tak berdarah ini, merupakan kata kunci bagi perkembangan politik dan ekonomi Pakistan kontemporer.
In the Line of Fire karya Peresiden Musharraf terbaru (2006), adalah buku yang cukup kontroversial untuk dekade akhir ini.


Minggu, 16 November 2014

KONFLIK MYANMAR (KONFLIK ETNIS ROHINGYA DAN ETNIS RAKHINE)



Sejarah Singkat Muslim Rohingya
Sebenarnya apabila dilihat dari segi histori, Kaum Rohingya sudah ada sebelum negara Myanmar ada. Sebagai etnis, Muslim Rohingya sudah hidup di sana sejak abad 7 Masehi dengan nama kerajaan Arakan (1430-1784). Sekitar 3.5 abad Rohingya berada dalam kekuasaan Muslim hingga Kerajaan Burma menyerangdan dianeksasi oleh Inggris. Setelah itu Rohingya menjadi bagian dari British India yang saat itu juga belum merdeka. Dan berlanjut hingga tahun 1940-an ada 137 etnis yang terdapat di Burma sejak Burma merdeka (1948), sejak saat itu pula etnis Rohingya tidak diakui sebagai etnis yang ada di Burma.
Etnis Muslim Rohingya selama puluhan tahun mengalami diskriminasi hingga menyebabkan status mereka kini stateless atau tidak memiliki negara. Jauh sebelum konflik Rohingya pada 2012 ini menyita perhatian dunia, sebenarnya etnis Rohingya telah ditindas selama puluhan tahun, baik oleh negara maupun etnis mayoritas di Myanmar, yang kebetulan beragama Buddha. Heru Susetyo, pada wawancara dengan media online Hidayatullah. com, tertanggal 25 Juli 2012 menyatakan bahwa sejak sebelum Burma merdeka, tahun 1942, sudah ada aksi kekerasan kepada orang Rohingya. Ribuan orang Rohingya dibunuh. Baik oleh negara maupun etnis mayoritas, karena mereka dianggap minoritas dan bukan bagian dari Burma.
Kemudian kekerasan terhadap etnis Rohingya berulang terus setelah Burma merdeka, ada operasi-operasi tentara yang sering kali dilakukan sejak tahun 1950-an. Yang paling sadis adalah Na Sa Ka Operation di antaranya dengan metode kekerasan, pengusiran, Burmanisasi, halangan untuk menikah, dan pemerkosaan. Jadi ini adalah state violence,di mana Negara melakukan genosida, etnic cleansing (pembantaian etnis), tapi kemudian berkembang menjadi kejahatan sipil antar orang Rohingya dengan orang Arakan lainnya yang non Muslim.(Sumber :Mirza Quanta A H – Wabendum HMI Cabang Surabaya Analisa Politik Konflik Rohingya)
Berita tentang Muslim Rohingya timbul menyusul konflik sektarian yang terjadi antara etnis Rohingya yang sebagian besar adalah Muslim dan etnis Rakhine yangmayoritas merupakan penganut Buddha. Penyebab konflik itu sendiri tak begitu jelas. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa kerusuhan itu merupakan buntut salah satu peristiwa perampokan dan pemerkosaan terhadap perempuan Rakhine bernama Ma ThidaHtwe pada 28 Mei 2012. Kepolisian Myanmar sebenarnya telah menahan danmemenjarakan 3 orang tersangka pelaku yang kebetulan dua di antaranya adalah etnisRohingya. Namun, tindakan itu ternyata tak cukup mencegah terjadinya kerusuhan dinegara bagian Rakhine yang terletak di bagian barat Myanmar itu. Pada tanggal 4 Juni,terjadi penyerangan terhadap bus yang diduga ditumpangi pelaku pemerkosaan dankerabatnya. Tercatat 10 orang Muslim Rohingya tewas. Sejak itu, kerusuhan rasial diRakhine pun meluas.Salah satu akar konflik menahun itu adalah status etnis minoritas Rohingya yang masih dianggap imigran ilegal di Myanmar.Pemerintah Myanmar tak mengakui dan tak memberi status kewarganegaraan kepadamereka. Sebagai akibat tiadanya kewarganegaraan, etnis Rohingya tak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan bahkan pekerjaan yang layak. Mereka betul-betul terabaikan dan terpinggirkan. Maurice Duverger menjelaskan bahwa dalam setiapkelompok masyarakat senantiasa diwarnai oleh konflik dan integrasi secara fluktuatif.Konflik berubah menjadi integrasi apabila terjadi kompromi yang didasari oleh rasa keadilan (Duverger, Maurice, Sosiologi Politik, PT. Rajawali Grafindo Persada, Jakarta, 1998.)Akar konflik yang lain adalah adanya kecemburuan terhadap etnis Rohingya.Populasi etnis Muslim Rohingya dalam beberapa dasawarsa ini terus meningkat. Tentusaja, hal ini menyebabkan kecurigaan dan kecemburuan pada etnis mayoritas Rakhine.Bagi mereka, keberadaan etnis Rohingya pun sangat mungkin dianggap “kerikil dalamsepatu”, yakni sesuatu yang terus mengganggu. Keberadaan etnis Rohingya dianggapmengurangi hak atas lahan dan ekonomi, khususnya di wilayah Arakan, Rakhine yangmenjadi pusat kehidupan etnis Muslim ini
KONFLIK ETNIS ROHINGYA DAN ETNIS RAKHINE
Konflik yang melibatkan dua etnis ini tidak bisa dilepaskan dari faktor sejarah. Kata Rohingya berasal dari kata
Rohang, yang merupakan nama lama dari negara bagian Arakan. Arakan dulunya merupakan sebuah negara independen yang pernah

dikuasai secara bergantian oleh orang Hindu, Budha dan Muslim. Pada 1203 M, Bengali menjadi sebuah negara Islam,dan sejak saat itu pula pengaruh Islam mulai merambah masuk kewilayah Arakan. Hingga pada akhirnya pada 1430 M, Arakan menjadi sebuah negara Muslim.yang ditandai dengan diratifikasinya Perjanjian Yandabo menyebabkan Burma, Arakan dan Tenasserim dimasukkan ke wilayah British-India. Selama 350 tahun kerajaan Muslim berdiri di Arakan dan Umat Islam hidup dengan tenang. Namun pada 24 September 1784 M. Raja Boddaw Paya dari Burma menginvasi Arakan dan menguasainya. Pada 1824-1826 perang Anglo-Burma pertama pecah. Perang ini berakhir pada 24 Februari 1426. Tahun 1935 diputuskan bahwa Burma terpisah dari British-India tepatnya mulai tanggal 1 April 1937 melalui keputusan ini pula digabungkanlah Arakan menjadi bagian British-Burma. Hal ini bertentangan dengan keinginan mayoritas penduduknya yang beragama Islam dan ingin bergabung dengan India.Hingga pada akhirnya Arakan menjadi bagian Burma yang merdeka pada Tahun 1948.Tidak seperti etnis lain yang setidaknya diakui warganegaranya oleh Myanmar, masyarakat Rohingya dianggap sebagai penduduk sementara. Sebagai “orang asing”, masyarakat Rohingya tidak diperbolehkan bekerja sebagai pengajar, perawat, abdi masyarakat atau dalam layanan masyarakat Mereka, dianggap sebagai orang-orang yang tak bernegara dan tidak diakui oleh pemerintah Myanmar.
Etnis yang terletak di Myanmar Utara ini terpinggirkan oleh pemerintahan junta militer dan di wilayah Rohingya, para pengajarnya biasanya berasal dari golongan etnis Budha Rakhine, yang seringkali menghalangi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi masyarakat Rohingya. Pemerkosaan dan kerja paksa adalah hal yang cukup lazim bagi etnis Rohingya di Myanmar. Tentara Myanmar kerapkali meminta uang dari mereka dan ketika mereka tidak dapat membayar, mereka akan ditahan dan disiksa. Masyarakat Rohingya juga mengalami penyiksaan secara religi. Hampir seluruh masyarakat Rohingya adalah beragama Islam. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya 12 Masjid di Arakan Utara dihancurkan, dengan jumlah terbesar di tahun 2006. Sejak 1962, tidak ada Masjid baru yang dibangun. Bahkan para pemimpin agama telah dipenjara karena merenovasi Masjid. Seorang pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sering bertugas ke daerah-daerah krisis kemanusiaan Perlakuan rezim Burma terhadap kaum minoritas Muslim Rohingya, disebut-sebut “seburuk-buruk perlakuan terhadap kemerdekaan manusia”.
Faktor Penyebab Konflik Rohingya
Berikut ini adalah faktor-faktor kronologis penyebab konflik Rohingya dari suratkabar Myanmar dan dari beberapa media internasional. Surat kabar The New Light of Myanmar edisi 4 Juni 2012 2, melaporkan satu berita mengenai pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis oleh tiga orang pemuda 
Pertama, pada tanggal 4 Juni, terjadi insiden pemerkosaan dan pembunuhan, dalam perjalanan menuju rumah dari tempat bekerja sebagai tukang jahit, Ma Thida Htwe,seorang gadis Buddha berumur 27 tahun, putri U Hla Tin, dari perkampunganThabyechaung, Desa Kyauknimaw, Yanbye, ditikam sampai mati oleh orang tak dikenal.Lokasi kejadian adalah di hutan bakau dekat pohon alba di samping jalan menujuKyaukhtayan pada tanggal 28 Mei 2012 pukul 17:15.
Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Kantor Polisi Kyauknimaw oleh U WinMaung, saudara korban. Kantor polisi memperkarakan kasus ini dengan Hukum AcaraPidana pasal 302/382 (pembunuhan / pemerkosaan). Lalu Kepala kepolisian distrik Kyaukpyu dan personil pergi ke Desa Kyauknimaw pada 29 Mei pagi untuk pencarian bukti-bukti lalu menetapkan tiga tersangka, yaitu Htet Htet (a) Rawshi bin U Kyaw Thaung(Bengali/Muslim), Rawphi bin Sweyuktamauk (Bengali/Muslim) dan Khochi binAkwechay (Bengali/ Muslim).
Penyelidikan menunjukkan bahwa Htet Htet (a) Rawshi tahu rutinitas sehari-harikorban yang pulang-pergi antara Desa Thabyechaung dan Desa Kyauknimaw untuk menjahit. Menurut pengakuannya dia berbuat dipicu oleh kebutuhan uang untuk  menikahiseorang gadis, dan berencana untuk merampok barang berharga yang dipakai korban.Bersama dengan Rawphi dan Khochi, Rawshi menunggu di pohon alba dekat tempatkejadian. Tak lama Ma Thida Htwe yang diincarnya datang dan berjalan

sendirian,ketiganya lalu menodongkan pisau dan membawanya ke hutan. Korban lalu diperkosa danditikam mati, tak lupa merenggut lima macam perhiasan emas termasuk kalung emas yangdikenakan korban.
Untuk menghindari kerusuhan rasial dan ancaman warga desa kepada paratersangka, aparat kepolisian setempat bersiaga dan mengirim tiga orang pelaku tersebut ketahanan Kyaukpyu pada tanggal 30 Mei pukul 10.15. Pada pukul 13:20 hari yang sama,sekitar 100 warga dari Rakhine Kyauknimaw tiba di Kantor Polisi Kyauknimaw danmenuntut agar tiga orang pelaku pembunuh diserahkan kepada mereka namun dijelaskanoleh pihak kepolisian bahwa mereka sudah dikirim ke tahanan. Massa yang mendatangikepolisian tidak puas dengan itu dan berusaha untuk masuk kantor polisi. Polisi terpaksaharus menembakkan lima tembakan untuk membubarkan mereka. Pada pukul 13:50 100warga Rakhine Desa Kyauknimaw lalu meninggalkan kantor polisi menuju Kantor Pemerintahan untuk menyampaikan keinginannya dengan diikuti oleh pihak kepolisianuntuk mencegah terjadi keributan. Pukul 16.00, para pejabat tingkat Kota menerima dan memberikan klarifikasi untuk menghindari kerusuhan, dan penduduk desa meninggalkankantor pada pukul 17:40.
Keesokan harinya, 31 Mei pukul 9 pagi, mereka meninggalkan Yanbye ke DesaKyauknimaw dengan dua perahu. Mereka pulang dengan membawa santunan sebesar 1 juta Kyat (mata uang Myanmar) untuk desa dari Menteri Perhubungan, U Kyaw Khin,600.000 Kyat dan lima set jubah untuk pemakaman korban serta ditambah 100.000 Kyatdari santunan perwakilan negara. Pada 31 Mei 15:05 Menteri Dalam Negeri dan KeamananPerbatasan Negara, wakil kepala Kantor Polisi, Kabupaten Kyaukphyu dan Kepala Kantor Polisi Distrik berpartisipasi dalam pemakaman korban dan mengadakan diskusi dengan penduduk desa. Pada 1 Juni pukul 9 pagi Kepala Menteri Negara dan partai di Kyaukpyumengadakan diskusi dengan organisasi pemuda Kyaukpyu atas kasus pembunuhantersebut. Diskusi-diskusi terutama menyinggung menjatuhkan hukuman jera pada para pembunuh dan membantu mencegah kerusuhan saat mereka sedang diadili.”
Kedua, terjadi insiden yang menewaskan 10 orang muslim di dalam bus. Menurut berita harian New Light dan beberapa blog orang Myanmar menyebutkan bahwa beredar foto-foto dan informasi bahwa “menurut bukti forensik polisi dan juga saksi mata yangmelihat tubuh korban, ia diperkosa beberapa kali oleh tiga pemuda Bengali Muslim dantenggorokannya digorok, dadanya ditikam beberapa kali dan organ wanitanya ditikam dandimutilasi dengan pisau. Setelah itu lebih dari seribu massa marah dan hampir menghancurkan kantor polisi di mana tiga pelaku ditangkap. Lalu kasus terburuk dan pemicu tragedi Rohingya adalah pembantaian terhadap 10 orang Muslim peziarah yangada dalam sebuah bus di Taunggup dalam perjalanan dari Sandoway ke Rangoon padatanggal 4 Juni.”Koran New Light Myanmar edisi 5 Juni 3 memberitakan rincian mengenai  pembunuhan sepuluh orang Burma Muslim oleh massa Arakan sebagai berikut:“Sehubungan dengan kasus Ma Thida Htwe yang dibunuh kejam pada tanggal 28 Mei,sekelompok orang yang terkumpul dalam Wunthanu Rakkhita Association, Taunggup,membagi-bagikan selebaran sekitar jam 6 pagi pada 4 Juni kepada penduduk lokal ditempat-tempat ramai di Taunggup, disertai foto Ma Thida Htwe dan memberikan penekanan bahwa massa Muslim telah membunuh dan memperkosa dengan keji wanitaRakhine. Sekitar pukul 16:00, tersebar kabar bahwa ada mobil yang berisikan orangMuslim dalam sebuah bus yang melintas dari Thandwe ke Yangoon dan berhenti diTerminal Bus Ayeyeiknyein. Petugas terminal lalu memerintahkan bus untuk berangkat ke Yangoon dengan segera. Bus berisi penuh sesak oleh penumpang. Beberapa orang denganmengendarai sepeda motor mengikuti bus. Ketika bus tiba di persimpangan Thandwe-Taunggup, sekitar 300 orang lokal sudah menunggu di sana dan menarik penumpang yang beridentitas Muslim keluar dari bus. Dalam bentrokan itu, sepuluh orang Islam tewas dan bus juga hancur.
Konflik sejak insiden 10 orang Muslim terbunuh terus memanas di kawasanArakan, Burma, muslim Rohingya menjadi sasaran. Seperti dilansir media Al-Jazeera, Halini dipicu juga oleh bibit perseteruan yang sudah terpendam lama, yaitu perseteruan antarakelompok etnis Rohingya yang Muslim dan etnis lokal yang beragama Buddha. Rohingyatidak mendapat pengakuan oleh pemerintah setempat. Ditambah lagi agama yang berbeda.Dari laporan berbagai berita sampai saat ini sejak insiden tersebut sudah terjadi tragedi pembantaian etnis Rohingya (yang notabene beragama Islam) lebih dari 6000 orang
Di saat kaum Muslim lain sedang khitmad menjalankan ibadah-ibadah di bulan suciRamadhan, kaum Muslim Rohingya malah dilanda konflik. Tercatat, delapan puluh jiwaMuslim Rohingya melayang karena terbunuh dan seratus ribu orang putus asa. Merekameninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi ke negara-negara tetangga.Ubaidah Katunadalah salah satu Muslimah Rohingya yang berhasil melarikan diri ke Bangladesh.Ubaidah Katun menuturkan bahwa jenazah Muslim di Arakan tidak sempatdikuburkan. Jenazah di sana dimasukkan ke dalam gerobak dan dibawa ke suatu tempatyang tidak dapat diketahui oleh otoritas setempat. Jiwanya terbelenggu oleh dua pilihan,antara menghormati jenazah sebagai pengamalan Islam yang diyakininya danmenyelamatkan jiwanya jika ia tidak segera melarikan diri dari kampung halamannyasendiri. Ubaidah juga menuturkan hal yang lainnya. Di Arakan, sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, Muslim yang kelaparan terpaksa makan batang pohon pisang. Hal ini masuk akal karena menurut Abdul Kalam (seorang Muslim yang juga berhasil melarikan diri keBangladesh), mereka di sana dihalang-halangi untuk pergi ke pasar, belanja barangkebutuhan sehari-hari. Bahkan, mereka yang hendak pergi untuk bekerja dihalang-halangi.Jika ketahuan hendak pergi bekerja, mereka dilempari bom molotov. Itulah sekelumit faktakonflik yang melanda Muslim Rohingya.
Baiknya memang isu agama dikesampingkan, karena memang bukan itu inti permasalahannya. Di Myanmar sendiri etnis Rohingya tidak diakui sebagai bagian dari bangsa Birma, bahkan ketika junta militer mengubah nama negaranya dari Bhurma(Birma) menjadi Myanmar, supaya etnis lain non-birma menerima integrasi dalam satu bangsa Myanmar. Etnis Rohingya tidak diakui pemerintah junta militer, mereka tak diberikartu identitas warga negara. Etnis Birma yang menjadi mayoritas di Myanmar punmenyebut etnis Rohingya sebagai "suku Bengali", menunjukan mereka tidak menerimaetnis Rohingya sebagai salah satu etnis di Myanmar. Mereka menganggap etnis Rohingyaitu "pendatang haram" dari Bangladesh, walau fakta sejarahnya etnis Rohingya telah ada ditanah itu (Rakhine state) selama ratusan tahun berdampingan dengan burmanese lainnya
Dampak yang terjadi yaitu Krisis kemanusiaan. Dimana Krisis kemanusiaan  yaitu kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas muslim Rohingya di Myanmar telah menyita perhatian publik internasional. Eskalasi konflik yang meningkat antara Buddha Arakan dengan muslim Rohingya memberikan gambaran yang buruk mengenai keseriusan pemerintah Myanmar dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia. Krisis Rohingya ini dipicu oleh insiden pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Ma Thida Htwe (27 tahun), seorang gadis Buddhis Arakan, yang dilakukan oleh beberapa oknum muslim Rohingya pada Mei 2012. Insiden tersebut kemudian memicu gejala kebencian terhadap muslim Rohingya di seluruh daerah Arakan. Beberapa hari setelah insiden itu, masyarakat Buddhis Arakan membalas dengan memukuli dan membunuh 10 orang etnis Rohingya, dalam satu insiden pencegatan dan pembunuhan penumpang bus antar-kota, hingga tewas di Taunggup.
Insiden pembunuhan tersebut menjadi awal bagi meningkatnya gejala kekerasan yang dan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh muslim Rohingya. Kelompok Buddhis Arakan, didukung oleh pendeta Buddha lokal dan aparat keamanan Myanmar, melakukan berbagai tindakan kekerasan secara sistematis terhadap muslim Rohingya meliputi pemukulan, pemenggalan, pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran tempat tinggal, pengusiran dan isolasi bantuan ekonomi. Berbagai tindakan kekerasan ini digunakan sebagai cara untuk mengusir etnis Rohingya keluar dari Myanmar. Aksi anarkisme yang dilakukan oleh masyarakat Arakan ini tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar dinilai sengaja mengambil kebijakan yang diskriminatif terhadap muslim Rohingnya dan adanya dugaan upaya pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang dilakukan oleh aparat keamanan Myanmar kepada etnis Rohingya.Dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia melaporkan bahwa Nasaka bertanggungjawab dalam kasus pemerkosaan, pemerasan dan kerja paksa. Etnis Rohingya tidak dapat melakukan perjalanan antar kota atau mengurus pernikahan tanpa adanya perizinan dari Nasaka, yang semuanya baru akan diurus setelah membayar uang suap.( Adhe Nuansa Wibisono, S.IP hlm 1 thn 2012)
 Kelompok 7
SRI SUMARNI SJAHRIL
EKO RACHMAT SAPUTRO
ANDI MUH IBNU RUSYD

Senin, 27 Oktober 2014

Pengaruh terbukanya terusan suez terhadap eksistensi kesultanan turki usmani



Kesultanan turki  1055-1924 M pada awalnya hanyalah pemberian dari khilafah abbasiyah untuk menguasai wilayah asia kecil dengan ibu kota di angkara. Setelah keruntuhan khilafah abbasiyah ,umayyah, fatimiyyah dan dinasti mongol, kesultanan turki muncul sebagai penguasa tunggal.
Pada awalnya , terusan zues hasil karya Ferdinand de lesseps. Bersama Compagnie Universelle du canal Maritime de suez mendapatkan konsesi dari pemerintah Mesir untuk penggalian Terusan suez. Diawali pada 1859 M dan selesai pada 1869 M.
Terusan Suez menghubungkan Pelabuhan Said (Bur Sa'id) di Laut Tengah dengan Suez (Al Suways) di Laut Merah. Terusan Suez dibuka pada 1870 dan dibangun atas prakarsa insinyur Perancis Ferdinand Vicomte de Lesseps. Terusan ini memungkinkan adanya transportasi air dari Eropa ke Asia tanpa mengelilingi Afrika. Sebelum adanya kanal ini, beberapa transportasi dilakukan dengan mengosongkan kapal dan membawa barang melalui jalan darat antara Laut Tengah dan Laut Merah. Terusan Suez terdiri dari dua bagian, yakni utara dan selatan Danau Great Bitter yang menghubungkan Laut Tengah ke Teluk Suez. Pada 1854-1856, Ferdinand de Lesseps memperoleh hak dari Khadif Mesir Said Pasha untuk menetapkan suatu perusahaan guna membangun dan mengoperasikan Terusan Suez selama 99 tahun. Pada 1869, konstruksi diselesaikan dan diperkirakan menghabiskan dana sebesar US$ 41,86 juta (Rp 378 miliar). Dalam penggunaan selanjutnya, mesir sebagai pemegang saham 44 %. Dibawah pemerintahan Khedive Ismail, pada tahun 1863-1879 M menderita krisis moneter maka terusan suez dijual ke inggris 1876 M. Penjualan ini menjadikan kerajaan anglikan inggris sebagai pemegang saham terbesar.
Penguasaan terusan suez  mengubah kerajaan anglikan  inggris menjadi negara adikuasa pada abad ke-19 M. Inggris sebagai kekuatan politik imperialis protestan, menguasai pintu gerbang laut yang disebut garis hidup imperialis yang membentang dari Giblartar, Malta, Siprus, Terusan Suez, Aden, Socotra, Calcuta, Srilangka, Singapura, hinnga hongkong. Kemudian ditambah dengan penguasaan Australia pada 1867 M.
Setelah meguasai terusan suez, kerajaan anglikan inggris masih merasa perlu untuk menumbangkan kesultanan turki karena sebagian besar timur tengah dan balkan merupakan wilayah kekuasaan turki usmani. Akibat provokasi kerajaan protestan anglikan inggris, mesir bangkit menuntut kemerdekaan. Demikian juga balkan berusaha melepaskan diri dari kesultanan turki. Timbullah perang mesir-turki I pada 1832-1833 disusul perang mesir-turki II pada 1839-1840 dimana mesir mencoba melepaskan diri dari kesultanan turki. Dilain pihak, akibat provokasi inggris, timbul juga perang kesultanan turki melawan rusia pada 1877-1878.  Tujuan dari perang turki-rusia adalah kekaisaran rusia ingin merebut pelabuhan ditimur tengah dan laut merah yang airnya tidak mengalami pembekuan dimusim dingin seperti di rusia utara, istilahnya disebut politik air hangat. Melalui provokasi ini, inggris bertujuan membantu kerajaan protestan belanda, agar kesultanan turki yang sedang berperang melawan rusiapada 1877-1878 M tidak berkesempatan memberikan bantuan kepada kesultanan aceh yang sedang diserang oleh belanda di nusantara pada 1873-1914. Perang aceh, pada 1873-1914 merupakan hasil provokasi pemerintah kolonial belanda. Tujuannya adalah menyempurnakan penjajahannya atas seluruh pulau sumatra dan sekitarnya. Invasi terhadap kesultanan aceh dilakukan setelah rubuhnya kejayaan negara gereja vatikan pada 1870 M dan dengan terbukanya terusan suez pada 1869 mengakibatkan jalan laut niaga antara nusntara dan timur tengah semakin dekat. Hal ini berpengaruh besar terhadap perkembangan kemajuan kesultanan turki dan kekuasaan politik islam di nusantara yang memngakibatkan imperialis barat bercita-cita melumpuhkan gerbang niaga islam yakni serambi mekkah yang menghubungkan negara-negara asia, afrika dan eropa.
Sebelum terusan suez beralih ketangan inggris, sebenarnya kerajaan protestan anglikan inggris telah berhasil membuka pelabuhan cina untuk barat sekitar tahun 1842-an M. Hanya dengan menguasai hong kong, kerajaan protestan anglikan nggris berhasil menguasai aktivitas politik dan jalan laut niaga di cina. Amerika serikat menandinginya dengan membuka jepang pada 1854 M dan merebut filipina dari kerajaan khatolik spanyol pada 1898. Langkah-langkah strategi politik inggris tersebut ditiru oleh belanda yang berusaha pula menguasai kesultanan aceh dengan pelabuhannya yang menghadap ke samudra india dan selat malaka. Dengan kata lain kesultanan aceh memiliki posisi geografi sebagai gerbang jalan niaga laut yang menghubungkan timur tengah, india, asia tenggara dan cina.
Sebenarnya, keberhasilan prancis merebut kekuasaan belanda di kesultanan acer karena adanya perang nepoleon. Perang Napoleon adalah perang yang berlangsung antara tahun 1803 dan 1815. Perang ini adalah lanjutan dari konflik-konflik yang dipicu Revolusi Perancis dan mencakup masa sepanjang Kekaisaran Perancis Pertama.Perang ini lah yang memicu perubahan status “kepemilikan”Hindia Belanda oleh Perancis,Inggris dan Belanda yang nantinya akan menjadi konflik yang berlarut-larut.Kadang perang ini disebut berlangsung pada sejak 1799 (tahun di saat Napoleon merebut kekuasaan) hingga 1815. Secara kolektif, masa perang yang berkelanjutan dari 20 April 1792 hingga 20 November 1815 juga kadang disebut Perang Hebat Perancis. Hingga pecahnya Perang Saudara Taiping (1850-1864), perang ini adalah konflik terbesar dan paling berdarah dalam sejarah manusia.Perang ini dimulai tatkala Perancis yang mengalami kemelut kekuasaan pasca Revolusi Perancis.Akhirnya Napoleon yang pada waktu itu hanya merupakan Jenderal biasa berhasil mendapat dukungan dan tampil sebagai penyelamat Republik dan akhirnya ditunjuk sebagai Kaisar Republik Perancis.Napoleon berambisi menyatukan seluruh Eropa di bawah kekuasaan Perancis dan menyebarkan Prinsip-Prinsip Revolusi Perancis. Ketika Napoleon berhasil menguasai Kerajaan Belanda,Raja Philip II melarikan diri ke London dan meminta perlindungan kepada Kerajaan Inggris.Kerajaan Inggris yang merupakan musuh utama Napoleon menyanggupi dengan syarat agar jajahan Kerajaan Belanda diberikan kepada Kerajaan Inggris.Sementara itu,Napoleon menunjuk adiknya yaitu Louis Bonaparte sebagai Raja Belanda dan bertugas memerintah Belanda beserta jajahannya,termasuk Hindia Belanda.Louis menunjuk Herman William Daendels sebagai Gubernur Jenderal Perancis di Hindia Belanda. Setelah sultan ali alauddin mansyur syah (1838-1870M) mengadakan kontak niaga dengan kerajaan katolik prancis dibawah napoleon III, pada 1852. Hal ini di ikuti dengan meningkatkan hubungan diplomatik antara kesultanan aceh dan kesultanan turki, pada 1869 M. Dilanjutkan dengan upaya peningkatan hubungan diplomatik pada masa sultan mahmud syah (1870-1874M) antara kesultanan aceh dengan kesultanan turki, inggris, amerika serikat dan republik prancis. Dibawah kondisi hubungan diplomatik kesultanan aceh yang semakin meluas tersebut, terjadi pula perjanjian politik antara kerajaan protestan belanda dan kerajaan protestan anglikan inggris. Mereka mengadakan tukar menukar wilayah jajahan. Pantai emas di afrika dilepaskan oleh kerajaan protestan belanda kepada kerajaan protestan anglikan inggris dalam perjanjian november 1871 M. Kemudian, kerajaan protestan belanda diberikan kebebasan untuk melancarkan operasi militernya untuk menggempur kesultanan aceh
Sedangkan bagi kerajaan protestan anglikan inggris sendiri, mereka masih membutuhkan eksistensi kesultanan turki  untuk menjadi tameng dalam ekspansi wilayah jajahan kekaisaran rusia yang mengarah kelaut tengah. Dengan kata lain, kesultanan turki dijadikan sebagai pembendung setiap usaha kekaisaran rusia dalam memperoleh pelabuhan yang tidak beku pada musim dingin ditimur tengah. Terbukanya terusan suez, menjadikan hubungan timur tengah denga india, cina asia tenggara khususnya nusantara semakin dekat.
Menyadari akan  peristiwa tersebut bahwa umat islam telah diperalat untuk kepentingan imperialis, muncullah seorang tokoh yang gagah berani, bekerja tiada henti-hentinya untuk menanamkan benih ke-islama-an dimana-mana. Menanamkan rasa perlawanan terhadap ketamakan imperialis barat. Beliau  adalah jamaluddin al-afghany yang berusaha keras membagkitkan gerakan  rasa persatuan ummat islam sedunia. Gerakan tersebut dinamakan oleh barat sebagai gerakan pan islamisme.
Gerakan pan islamisme yang dipelopori oleh jamaluddin al-afghany pada awalnya mendapat dukungan dari sultan abdul aziz pada 1861-1876 M dan abdul hamid II pada 1876-1909 M dari kesultanan turki. Sultan abdul hamid II  menjadikan islambul sebagai markas besar gerakan anti imperialis barat maka gerakan tersebut ditargetkan oleh imperialis barat untuk diruntuhkan. Usaha tersebut mulai berhasil  pada saat kesultanan turki mulai lemah. Dibawah sultan muhammad V 1909-1918 pada saat perang dunia I (1914-1919) mulai digoyahkan oleh gerakan turki muda yang melakukan kudeta.
Sultan muhammad V sebagai sultan tampa kekuasaan, hanya sebagai simbol belaka. Pemerintahan dipegang oleh enver bey. Sultan digantikan oleh sultan muhammad VI, 1918-1922 M yang lemah. Gerakan turki muda mengangkat sultan abdul majid, 1922-1924 M untuk kemudia dimakzulkan pada 3 maret 1924 dan diangkatlah kemal pasha sebagai presiden pertama republik turki. Berakhirlah kekuasaan islam dan berakhir pula peranan kesultanan turki sebagai pelindung gerakan pan islamisme.
Dengan munculnya turki sebagai republik sekuler turki di timur tengah, inggris dan amerika berusaha melumpuhkan ahlus sunnah wal jama’ah dengan menggunakan potensi wahabisme. Dengan menggunakan bantuan tenaga muda dari dalam turki, lahirlah republik sekuler turki. Dampaknya terhapuslah segenap ajaran islam dalam bidang politik, budaya, dan hukum. Termasuk ditiadakannya bahasa arab dan huruf arab digantikan dengan bahasa turki dan huruf latin. Busana jubah, tudung kepala thorbus dan jilbab digantikan dengan tudung kepala dan busana barat. Hukum islam pun ditiadakan digantikan dengan hukum barat
Setelah berdirinya republik sekuler turki, dua hari kemudian muncul gerakan ahlus sunnah wal jama’ah dikerajaan arabia dibawah raja husein. Ia berusaha menegakkan kembali kekhalifa-an islam dengan pusatnya dimekkah pada 5 maret 1924 M. Dengan tuntutan wilayahnya  meliputi bekas wilayah kesultanan turki yaitu syiria, palestina dan juga wilayah sekarang yang menjadi negara israel.  
Dibawah kondisi ini, kerajaan protestan anglikan inggris tidak mungkin membiarkan kebangkitan kembali gerakan kekhalifa-an berlanjut. Sebenarnya, imperialis barat tidak mungkin mampu merubuhkan kekuasaan politik islam dari kerajaan arabia dibawah raja husein  atau raja ali kecuali menjalin kerjasama dengan dengan abdul majid bin saud, penganut aliran wahabisme.
Proses tumbangnya kerajaan arabia dibawah raja husein, diawali timbulnya tuntutan rakyat arabia, pergantian raja husein digantikan oleh anaknya raja ali . namun karena tuntutan wilayah politiknya sama dengan tuntutan ayahnya, maka ditumbangkanlah oleh serbuan abdul aziz bin saud dari kuwait, penganut wahabi ke hijaz, makkah dan madinah pada 1925 M.
Dampak serbuan abdul aziz bin saud itu, raja ali mencari suaka ke irak dan raja husein ke cyprus. Dengan demikian, berdirilah kerajaan saudi arabia yang dirajai oleh ibnu saud.
Dengan demikian, imperialis barat telah berhasil memecah belah kekuasaan politik islam atau kesultanan turki di timur tengah dengan munculnya gerakan nasionalisme. Sekalipun kesultanan turki runtuh, namun imperialis barat tetap ketakutan terhadap gerakan kebangkitan kembali solidaritas muslim. Menurut barat yang sangat membahayakan imperialis barat adalah gerakan yang mereka namakan pan islamisme. Untuk menghadapi gerakan pan islamisme, maka kerajaan protestan anglikan inggris menciptakan balance of power dengan membantu gerakan zionisme yang bercita-cita membangun membangun negara israel. Usaha ini berhasil menjadi nyata sesudah perang dunia II, pada 1939-1945, tepatnya pada 15 mei 1948.
Negara israel digunakan digunakan sebagai penghambat kemajuan negara-negara nasional islam ditimur tengah-selatan terlepas dari kesultanan turki.
Referensi

Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah Jilid 1; Mahakarya Perjuangan Ulama Dan Santri Dalam Menegakkan NKRI. Bandung, 2009



KELOMPOK

1. ARMAN
2. BAHARUDDIN